"Secangkir Teh dan Sepotong Ketupat": Buku Karya Mohammad Zaim Yang Membuatku Merasakan Sejuknya Sunyi
![]() |
| Doc pribadi |
Halo, kembali lagi di blog pribadi saya. Apa kabar para pembaca senyap? Kali ini gairah menulis saya kembali meronta-ronta, apalagi sehabis membaca buku yang menurut saya bagus. Buku ini berjudul ‘Secangkir Teh dan Sepotong Ketupat: Tentang Perjalananku dan Islam Yang Sempat Kuragukan’ yang ditulis oleh Mohammad Zaim, berkisah tentang perjalanan spiritual beliau yang sempat meragukan agama Islam, membuatnya menempuh pelajaran agama Buddha hingga menjadi shamanera (calon biksu) selama lima tahun.
Awal mula bertemu dengan buku ini adalah dari Ideafest di JCC (Jakarta Convention Center), Senayan, Jakarta Pusat, beberapa bulan lalu. Ketika tahu ada bazaar buku besar, saya langsung cusss… ke sana bareng keluarga. Biasalah, sudah tahu punya buku banyak, tapi masih aja beli baru. Serius deh, masih banyak buku yang saya beli tapi belum dibaca-baca sampai sekarang, wkwk.
Oke lanjut, begitu melihat buku ini diantara tumpukan buku lainnya, yang saya lihat dari cover-nya adalah biasa saja bagi saya, tapi dari anak judul serta ulasan-ulasan di belakang bukunyalah membuat batin bergejolak,
“Biografi spiritualitas seseorang? Hmm … menariq,” batin saya.
Dari lama saya memang tetarik tentang topik seputar keimanan, spiritual, filosofi dan pandangan hidup. Apalagi perjalanan ini mengaitkan Buddha, dan kebetulan belakangan ini saya juga tertarik dengan ajaran itu. Gambaran di benak saya terhadap ajaran Buddha adalah slow living dan sederhana, melihat konten-konten dari pemuka agama Buddha di YouTube juga saya senang dengan tutur katanya yang lembut dan menenangkan. Alhasil, dibacalah buku ini, memang memakan waktu yang cukup lama, sekitar tiga minggu, sebab harus memprioritaskan tugas-tugas kuliah yang kian menumpuk.
Sinopsis
Oke, sebenarnya buku ini berisi perjalanan pribadi sang penulis, pak Zaim, dalam menemukan makna spiritualnya, ‘selaras dengan alam’. Sempat meragukan agama yang dianutnya, Islam, ragu akan penggambaran Tuhan, ikut progam meditasi di wihara, kuliah di kampus Buddha, mempelajari ajaran Buddha di Plum Village, Prancis, sampai menjadi shamanera (calon biksu) selama lima tahun, dan kembali pulang ke Indonesia.
Bisa dibilang alurnya cenderung agak lambat, tetapi dialog-dialog serta ungkapan pribadi dari sang penulis membuat saya kerap kali tertegun dan kembali fokus pada tulisan. Mengisahkan dari kelahirannya, bagaimana kehidupannya di kampung selama kanak-kanak, serta gejolak-gejolak kegelisahan dan pikirannya mengenai ketuhanan.
![]() |
| Doc pribadi |
Sempat beguru pada salah satu Kiai di tempat tinggalnya dan belajar tentang laku ibadah dan spiritualitas, yang saya tangkap dari buku ini lebih kepada laku sufisme. Hingga tiba dimana pak Zaim di kala itu memutuskan untuk belajar meditasi di wihara seiringan dengan kuliahnya di IAIN. Beberapa lama kemudian beliau terjun lebih dalam dan belajar meditasi di salah satu wihara di Kalimantan Barat, hingga ditawari beasiswa untuk belajar di STAB (Sekolah Tinggi Agama Buddha) Nandala, Jakarta.
Wah, sampai kuliah di kampus Buddha, loh ...
Kisah pun berlanjut dengan pak Zaim yang mempelajari ajaran Buddha dan meninggalkan kuliahnya di IAIN, ditawari oleh kakak tingkatnya untuk ikut kelas retret Zen (salah satu kelas meditasi), sampai kemudian beliau tidak meneruskan kuliah di STAB Nandala dan memperdalam ajaran Buddhisme di Plum Village, Prancis.
![]() |
| Doc pribadi |
Yup, sederhananya begitu.
Kisah yang ditulis di buku ini sebenarnya mempunyai alur maju mundur, bahkan ada khusus satu bab yang menceritakan flashback-nya beliau. Dan menurut saya secara keseluruhan cerita ini lebih panjang dengan banyak dialog serta narasi yang membuat hati tertegun, teman-teman bisa membacanya langsung di buku tersebut.
Tanggapan
![]() |
| Doc pribadi |
Ada satu perasaan yang mendominasi saya selama membacanya, yaitu kenenangan.
Kata-kata di dalamnya memang baku, beberapa dialognya juga, tetapi saya tetap nyaman selama membaca, dan penggambaran suasana di dalam kisahnya detail, sehingga membuat imajinasi saya cepat tergambar seakan saya turut hadir di dalamnya. Ada beberapa part yang membuat saya terharu sampai gak sadar mengeluarkan air mata, dan entah mengapa juga beberapa part di dalamnya membuat saya merinding, seolah ada yang menyenggol batin saya.
Hal yang saya tangkap dari buku ini adalah 'selaras dengan alam' berarti tenang dan sadar. Kita tetap tenang pada situasi apapun, mengendalikan diri disaat emosi mulai muncul (emosi bukan cuman amarah, loh, yaaa ...) mengetahui dan menerima emosi tersebut, merenunginya.
Selaras dengan alam adalah bagaimana kita bersikap, merasa, peka pada sekitar. Rasakan ketika kaki menapak tanah disaat berjalan, rasakan kemana perginya napas kita, bagaimana angin meniup-niup telinga kita, bagaimana pohon-pohon berguguran daunnya, kemana air pergi.
Ini tentang kesadaran.
Mungkin sang penulis memiliki maksud yang berbeda, tetapi kira-kira begitulah pendapat pribadi saya tentang hal yang ditangkap setelah membacanya.
(Eh, makanya Bhante Dira bilang kalau Buddha berarti 'sadar', ya? 😮)
---
Judul : Secangkir Teh dan Sepotong Ketupat
Penulis : Mohammad Zaim
Terbit : Cet I, November 2017. Penerbit Qanita
ISBN : 978-602-402-108-5
Skor Pribadi : 5/5 ⭐
---
Disclaimer: Ini skor pribadi yaa ... kalian boleh punya tanggapan masing-masing terkait buku ini, sok, atuh, komen .... see yaa next time!




Komentar
Posting Komentar